Cari Sesuatu Tentang Bali Disini

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

03 May 2012

Asal Mula Pura Besakih

PADA zaman dahulu kala, ketika Pulau Bali dan Pulau Jawa belum dipisahkan Segara Rupek (Selat Bali) dan sohor disebut Pulau Dawa, kawasan Besakih dikenal sebagai hutan belantara. Tersebutlah dalam lontar Markandeya Purana, seorang Yogi atau pertama bernama Resi Markandeya yang bertapa di Gunung Rawang (sekarang dikenal dengan nama Gunung Raung di Jawa Timur). Sang Resi yang berasal dari Hisdustan (India) itu, oleh para pengiringnya disebut Batara Giri Rawang karena kesucian, cakap dan bijak bestari


Awalnya Sang Yogi Markandeya bertapa di gunung Demulung. Kemudian pindah ke gunung Hyang, yang sekarang disebut Gunung Diyeng di Jawa Tengah. Setelah sekian lama bertapa, Sang Yogi mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau beserta para pengikutnya merabas hutan di bagian timur pulau Dawa, dan membagikan lahan untuk para pengikutnya. .

Sang Yogi Markandeya pun melaksanakan titah tersebut. Beliau segera berangkat ke arah timur bersama para pengiringnya, kurang lebih berjumlah 8000 orang. Setelah tiba di tempat tujuan, Sang Yogi Markandeya memerintahkan kepada semua para pengikutnya bekerja merabas hutan, sebagaimana yang dititahkan Hyang Widhi Wasa. Tapi pekerjaan merabas tidak berlancar lancar karena cukup banyak orang yang tewas karena sakit atau diterkam binatang buas. Kejadian naas itu menimpa mereka karena ketika merambah hutan tidak didahului dengan upacara yadnya (bebanten / sesaji). Perabasan hutan pun dihentikan. Sang Yogi Markandeya kembali lagi ke tempat pertapaannya di Gunung Raung.

Pada hari yang dipandang baik, beliau kembali ingin melanjutkan perabasan hutan itu untuk pembukaan daerah baru, disertai oleh para resi dan pertapa yang akan diajak bersama-sama memohon wara nugraha kehadapan Hyang Widhi Wasa bagi keberhasilan pekerjaan ini. Kali ini para pengikutnya berjumlah 4000 orang yang berasal dan Desa Age (penduduk di kaki gunung Raung) yang membawa alat-alat pertanian dan bibit-bibit tanaman yang kelak akan ditanam di hutan yang akan dirabas.

Setelah tiba di tempat yang dituju, Sang Yogi Markandeya segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan, menebang pohonan mulai dari selatan ke utara. Begitu lahan yang dibuka untuk pertanian dirasakan cukup, berkat asung wara nugraha Hyang Widhi Wasa, maka Sang Yogi Markandeya memerintahkan agar perabasan hutan dihentikan. Beliau mengadakan pembagian tanah untuk para pengikutnya untuk dijadikan sawah, kebun dan perumahan.

Pada tempat awal merabas hutan, Sang Yogi Markandeya menanam kendi (payuk) berisi air dan Pancadatu, yaitu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten / sesajen) selengkapnya, diperciki tirta Pangentas (air suci). Tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi nama Basuki.

Sejak saat itu, para pengikut Sang Yogi Markandeya berikutnya yang datang merabas hutan untuk pembukaan wilayah baru, tidak lagi ditimpa bencana sebagaimana yang pernah dialami pendahulunya. Demikianlah, sedikit kutipan dari lontar Markandeya Purana tentang asal mula adanya desa dan pura Besakih yang seperti disebutkan terdahulu bernama Basuki dan dalam perkembangannya kemudian sampai hari ini bernama Besakih.

Mungkin berdasarkan pengalaman tersebut, dan juga berdasarkan apa yang tercantum dalam ajaran-ajaran agama Hindu tentang Panca Yadnya, sampai saat ini setiap kali umat Hindu akan membangun sesuatu bangunan baik rumah, warung, kantor sampai pembangunan Pura, demikian pula memulai bekerja di sawah ataupun pada perusahaan, terlebih dahulu mereka mengadakan upakara yadnya seperti Nasarin atau Mendem Dasar Bangunan.

[BYY, dari berbagai sumber]
READ MORE - Asal Mula Pura Besakih

Sejarah : Nyama Selam "Saudara Islam" di Karangasem dan Tradisi Lebaran

oleh Wayan Sunarta


KOMUNITAS Muslim di Kabupaten Karangasem yang berlokasi di ujung timur Bali, telah berkembang sejak jaman pemerintahan Raja Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Nyama selam (saudara Islam), begitu orang Bali biasa menyebut, memiliki ikatan tali sejarah yang erat dengan Puri Karangasem dan telah lama hidup berdampingan secara rukun dengan umat Hindu.

Peristiwa itu bermula setelah laskar Karangasem dibawah pimpinan Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem berhasil mengalahkan dan menduduki Kerajaan Selaparang dan Pejanggi di Lombok pada tahun 1692. Sejak itu, raja membina hubungan baik dengan umat Muslim di Lombok. Seiring waktu, terjadi migrasi umat Muslim dari Lombok ke Karangasem. Begitu pula sebaliknya.

Bahkan, salah satu keturunan Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem yang menjadi raja di Lombok, yakni Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem, memperistri keturunan Datu Selaparang, Denda Fatimah, yang kemudian berganti nama menjadi Denda Nawangsasih. Selain membangun Taman Narmada dan Taman Mayura di Lombok, Anglurah Gede Ngurah juga sangat memerhatikan kehidupan umat Muslim. Salah satunya dengan cara membuat perwakilan di Jeddah yang dipimpin oleh Haji Majid, untuk mempermudah umat Muslim di Lombok dan Karangasem menunaikan Ibadah Haji. Ketika Belanda ingin menguasai Lombok, Anglurah Gede Ngurah diasingkan ke Batavia (Jakarta) pada tahun 1894, hingga wafat setahun kemudian.

Salah satu bukti kedatangan umat Muslim pertama di Karangasem adalah sebuah makam kuno yang terdapat di dekat Pantai Ujung, Karangasem. Ada dua versi yang beredar tentang kisah makam tersebut. Yang pertama, konon makam itu adalah makam Raja Pejanggi yang ditawan Raja Karangasem hingga meninggal. Yang kedua mengisahkan itu makam Ratu Mas Pakel, atau lebih dikenal dengan nama Sunan Mumbul, orang kesayangan Raja Karangasem, yang dibunuh di Pantai Ujung ketika akan kembali ke Lombok. Konon, dia dibunuh oleh orang-orang yang tidak suka melihat kedekatan Raja Karangasem dengan umat Muslim.


Sejarah keberadaan makam itu memang masih simpang siur. Namun, yang pasti, makam itu sangat dihormati oleh umat Muslim di Karangasem, dan dianggap sebagai makam leluhur mereka. Muda Wijaya, yang berasal dari Kecicang, menuturkan bahwa lima belas hari setelah Lebaran, umat Islam di Karangasem biasanya ziarah ke makam kuno tersebut.

Pada jaman kerajaan, banyak orang dari komunitas Islam di Karangasem yang diangkat menjadi laskar, bahkan punggawa. Itulah sebabnya kampung atau pusat-pusat komunitas Islam di Karangasem tersebar secara strategis membentuk semacam benteng pertahanan untuk keamanan Puri Karangasem. Pada lapisan pertama, sebagai pertahanan di bagian selatan, terdapat kampung Ujung Pesisir, Ujung Sumbawa, Ujung Desa, Segara Katon, Dangin Sema. Dari Pantai Ujung hingga ke sebelah timur dan utara puri, terdapat kampung Nyuling, Tihing Jangkrik, Kampung Anyar, Karang Sasak, Tibulaka, Bukit Tabuan, dan Karang Cermen. Di bagian barat ada kampung Bangras, Karang Langko, Karang Tohpati, Kampung Ampel, Grembeng, Karang Tebu, Juwuk Manis.

Sebagai lapisan kedua, di sebelah barat adalah Subagan (termasuk Karang Sokong), Tegala Mas, Kecicang, Kedokan, hingga Saren Jawa dan Sindu (di Kecamatan Sidemen). Komunitas Islam di Saren Jawa konon tidak berasal dari Lombok, melainkan dari Jawa (Majapahit) yang telah berkembang sejak Bali diperintah oleh Raja Dalem Waturenggong yang beristana di Klungkung. Kisah Saren Jawa bermula dari jasa besar seorang utusan dari Jawa yang bernama Raden Kyai Jalil. Dia berhasil membunuh seekor wadak (sapi besar) yang membuat kekacauan di sebuah komunitas Muslim di wilayah Kerajaan Karangasem. Lokasi terbunuhnya sapi itu disebut sare yang artinya tidur. Karena yang berhasil membunuh sapi itu adalah orang Jawa maka lokasi itu disebut Saren Jawa.

Sedangkan di Kecamatan Manggis, terdapat Kampung Buitan sebagai pertahanan di bagian paling barat, yang juga berkaitan dengan pertahanan di bidang perdagangan dan pelayaran. Pada jaman kerajaan, Buitan pernah menjadi daerah pelabuhan dan bandar perdagangan.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, pada jaman kerajaan, sejumlah mubaliq (pengajar/ahli agama Islam) juga pernah datang ke Karangasem. Di antaranya adalah Sayid Hassan Al Idrus yang menetap di Telaga Mas (Subagan), Sayid Syeh Almulah Hela yang tinggal di Karang Langko. Sementara itu, Abdullah Bin Salom Bagarib (dari Arab Selatan) diperkirakan datang ke Karangasem pada tahun 1859.


Selain mengajarkan agama, orang Islam datang ke Karangasem juga untuk tujuan berdagang, salah satunya adalah Fidahussin Jiwakhanji dari Ujoin, India Tengah, yang datang sekitar tahun 1916. Kemudian, pada tahun 1918, datang keluarga Jiwajirasulji dari Mandar Rajastan, India Utara. Pada tahun 1920 datang Ali Husein Rasul Bhay dari Ujoin, India Tengah. Dan, sekitar tahun 1930 keluarga Fiddahusein Hasan Bhay datang ke Karangasem. Hingga kini keturunan mereka masih menetap dan membuka toko di Kota Amlapura (Ibu Kota Karangasem), dan ada juga yang menyebar ke Klungkung dan Denpasar.

Pada masa-masa awal perkembangan Islam di Karangasem, pembangunan mesjid dan langgar sering mendapat bantuan dari Puri Agung Karangasem, yang saat itu diperintah oleh A.A. Agung Anglurah Ketut Karangasem sebagai stedehouder II yang diangkat Belanda tahun 1908. Dia adalah dinasti keenam dari Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem yang memimpin penyerangan ke Lombok.

Pada jaman kerajaan, hubungan kekerabatan Puri Karangasem dengan komunitas Muslim di Karangasem sangat erat, dan penuh dengan solidaritas yang terbina sejak lama. Pihak Puri sering membantu dana dan perbekalan umat Islam yang mau naik Haji. Begitu pun pada saat hari-hari raya Islam, seperti Idul Adha, Idul Fitri, pihak Puri juga turut aktif membantu, misalnya berupa hasil-hasil bumi dan hewan kurban. Pihak Puri juga suka memberi hadiah tanah sebagai wakaf kepada komunitas Islam yang dianggap berjasa kepada Puri. Misalnya, komunitas Islam di Dangin Sema, Nyuling dan Subagan memiliki ikatan yang disebut pauman. Bila ada upacara atau kegiatan di Puri, komunitas pauman turut terlibat membantu.

Bahkan, hingga kini, Komunitas Islam di Kampung Anyak dan Bukit Tabuan memiliki tugas turun temurun sebagai juru sapuh dan juru tabuh “bende” (gong kecil) pada saat piodalan (upacara) di Pura Bukit yang disungsung keluarga Puri Karangasem. Pura Bukit merupakan pura keramat dan bersejarah yang pernah menjadi titik pemberangkatan laskar Karangasem saat menyerbu Lombok dengan dipandu ribuan kupu-kupu kuning yang menyeberangi Selat Lombok. Bende yang pernah dipakai genderang perang itu sangat sakral dan kini nyaris keropos dimakan usia. Setiap piodalan, replika bende ditabuh oleh umat Islam sebagai simbolisasi kekerabatan dengan Puri Karangasem.


Di Karangasem, terdapat sejumlah kesenian bernuansa Islam. Misalnya, musik preret dan rebana yang bisa ditemui di Nyuling, biasanya dipentaskan saat upacara perkawinan. Kampung Dangin Sema terkenal dengan Wayang Sasak berlakon Menak dengan dalang paling kondang Haji Kasim Ahmad. Selain itu, di Kecicang, Karang Tohpati dan Bangras, bisa disaksikan tari rudat yang penuh gerak ketangkasan dan keperwiraan dengan kostum ala prajurit. Sedangkan, di Subagan terdapat seni pencak silat yang dikembangkan oleh Daeng Plele asal Bugis yang meninggal tahun 1936.

Di Karangasem, umat Islam merayakan Lebaran dengan penuh suka cita dan rasa kebersamaan yang tinggi. Menurut penuturan Ahmadi dari Kecicang, usai Sholat Id, para ibu dan remaja putri akan membawa makanan, kue-kue dan buah-buahan ke mesjid. Kemudian mereka menggelar acara megibung dengan penuh rasa syukur. “Setelah itu dilanjutkan dengan acara bebas, seperti halal bi halal, melancong, dan sebagainya,” ujar Ahmadi.

Megibung merupakan tradisi makan bersama yang dipopulerkan oleh Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem ketika laskar Karangasem beristirahat setelah peperangan di Lombok. Megibung penuh dengan aturan dan disiplin ketat yang mengarah kepada semangat kebersamaan. Hingga kini megibung menjadi tradisi makan bersama yang unik di Karangasem dan biasanya digelar berkaitan dengan kegiatan atau perayaaan adat dan agama, baik oleh umat Hindu maupun Islam. Makanan dalam acara megibung yang digelar oleh umat Islam di Karangasem tidak memakai daging babi dan darah, meski masakannya kebanyakan bernuansa Bali, seperti lawar, sate lilit, komoh.

Selain itu, menurut penuturan Muda Wijaya, sebagian besar umat Islam di Kecicang juga masih memegang teguh tradisi ziarah ke kuburan leluhur. Ada sebuah makam kuno di Tohpati, Budakeling, Kecamatan Bebandem yang sering diziarahi oleh umat Islam dari Kecicang dan sekitarnya saat Hari Raya Lebaran, yakni makam Tuan Guru Balok Sakti. “Banyak yang meyakini itu makam leluhur umat Muslim di Kecicang,” ujar Muda Wijaya.[ ]

Foto-foto: Wayan Jengki Sunarta
READ MORE - Sejarah : Nyama Selam "Saudara Islam" di Karangasem dan Tradisi Lebaran

Sejarah Gereja di Bali

BALI yang kini terkenal di seluruh dunia karena kebudayaan dan agama Hindu dengan segala keunikannya sejak dahulu sudah menunjukkan adanya kesediaan untuk menerima masuknya agama Katolik di wilayah ini. Satu dokumen yang mendukung hal ini adalah sepucuk surat di atas daun lontar yang ditunjukkan kepada orang-orang Portugis di Malaka pada tahun 1635. Dalam surat itu raja Klungkung mewakili raja-raja Bali menulis antara lain: ‘Saya senang sekali jika mulai sekarang kita bersahabat dan orang datang ke pelabuhan ini untuk berdagang.Saya pun akan senang sekali jika imam-imam datang ke sini agar siapa saja yang menghendaki dapat memeluk agama Kristen.”

Gereja Hati Kudus Yesus, Palasari
Undangan Raja Klungkung itu mendapat sambutan dari gereja Katolik Portugis dengan diutusnya dua orang misionaris Yesuit ke Klungkung, Bali. Kedua pastor tersebut adalah P. Mamul Carvalho S.J dan P. Azemado S.J . dari Malaka. Namun tidak adanya bukti-bukti yang menyatakan adanya hasil dari kedua pastor tersebut. Apalagi dengan adanya kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda untuk mempertahankan Bali agar bebas dari pengaruh agama Kristen melalui pasal 177 yang terkenal itu. Maka makin sulit bagi agama Katolik masuk ke pulau Bali.

Kemudian atas permohonan Vilkaris Apostolik Betawi Gubernur Jendral Hindia Belanda memberi ijin dalam tahun 1891 bagi dua misionaris masuk di Buleleng dalam suratnya yang antara lain berbunyi: “Dari pihak saya tidak ada keberatan bila satu atau dua misionaris mulai menetap di Buleleng dengan maksud mempelajari bahasa Bali dan sesudah itu menetap di Buleleng untuk mulai karya misi diantara penduduk setempat.”

Pastor Simon Buis

Selanjutnya pada tahun 1912 kepulauan Sunda Kecil diserahkan oleh Yesuit ketangan SVD, dan tahun 1913 wilayah kepulauan Sunda kecil ditingkatkan statusnya menjadi Prefektur Apostolik yang meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, Flores,Sumba dan Timor.
Pada bulan desember 1914 Mgr. Noyen yang menjabat Prefek Apostolik Sunda Kecil mengadakan kunjungan keagamaan ke pulau Bali, setelah dengan susah payah mendapat ijin dari pemerintah Belanda. Disamping ijin untuk mengadakan kunjungan keagamaan, bahkan dalam tahun 1920 Pemerintah mengabulkan permohonan Mgr. Noyen SVD untuk mendirikan sebuah sekolah Katolik di Bali. Namun sayang sekali bahwa kesempatan emas ini tidak dapat dimanfaatkan karena masalah kekurangan tenaga.

Ternyata kesempatan tersebut tidak mudah diperoleh lagi, walaupun pengganti Mgr. Noyen yang meninggal tahun 1922, yakni Mgr. Verstralen mengajukan permohonan untuk mendirikan HIS di Bali tidak mendapatkan persetujuan dalam Volkstraad.Harapan muali muncul kembali sewaktu Mgr. Leven menjabat Vikarius Aopstolik mengantikan Mgr. Verstralen yang meninggal karena kecelakaan tahun 1932.Dan harapan itu pun menjadi kenyataan dalam tahun 1935, ketika pastor Van Der Heijden menjadi pastor di Mataram, Lombok. Pastor Van Der Heijden mendapatkan pula tugas khusus untuk mengadakan kunjungan rohani ke Bali dan Sumbawa dan sejak itu mulailah titik awal dari masuknya gereja Katolik ke Bali. Tanggal 14 Mei 1935 Van Der Heijden menetap di Mataram, dan tanggal 9 Juni 1935 Gereja Katolik pertama didirikan dan diresmikan di kota Mataram. Hari tersebut dipandangsebagai hari masuknya karya gereja Katolik di pulau Lombok.

Empat bulan kemudian, persisnya tanggal 11 September 1935, Pastor Van Der Heijden mengantar pastor J. Kersten SVD ke Denpasar dan mulai menetap di Denpasar. Peletakkan batu pertama gereja Katolik Tuka, 12 Juli 1936 oleh Pastor J. Kersten SVD dihadiri oleh Pastor Van Der Heijden dan Pastor Conrad SVD).

Perarakan Bunda Maria keliling Palasari

Pastor Simon Buis pada tanggal 15 September 1940 berhasil mengadakan eksodus dari Tuka dan sekitarnya ke ujung Barat pulau Bali dan membuka desa ditengah-tengah hutan yang kini terkenal sebagai desa Palasari.

Pada tahun 1939 gereja Gumbrih diresmikan disusul gereja di Padangtawang pada September tahun 1940, lalu gereja di Tangeb pada tgl 8 Desember 1940, di Palasari 19 Juni 1941.Pada tahun 1939 gereja Gumbrih diresmikan disusul pula oleh gereja di Padangtawang tahun 1940 bulan September, di Tangeb pada 8 Desember 1940, di Palasari 19 Juni 1941.14 Juli 1950 daerah Bali dan Lombok dipisahkan dari Sunda Kecil dan menjadi Prefectur Apostolik dibawah pimpinan Mgr. Hubertus Hermens SVD.Dalam masa jabatan beliau secara menyolok karya-karya karikatif dan edukatif berkembang pesat. Hal ini membawa perkembangan baru dalam penambahan lapangan kerja dan kebutuhan akan tenaga kerja yang banyak.

Babak baru bagi karya para Suster pun mulai dan datanglah para suster Fransiskanes dari Semarang tahun 1956 ke desa Palasari. Satu langkah maju lagi dalam perkembangan Gereja Katolik Bali ialah dengan ditingkatkannya Profektur Apostolik Bali menjadi Keuskupan Denpasar tanggal 3 Januari 1961 dengan uskup pertama Mgr. Dr. Paulus Sani Kleden SVD yang ditahbiskan menjadi uskup di Palasari tgl 3 Oktober 1961.Pada masa ini karya Gereja Katolik Bali sudah meliputi bidang pendidikan melalui persekolahan dari tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah menengah. Dalam bidang medis melalui Poliklinik-BKIA dan rumah sakit yang tersebar dimasing-masing paroki seperti Tuka, Tangeb, Gumbrih, Palasari, Denpasar dan Singaraja.

Sumber :
Dirangkum dari tulisan Pastor Shadeg SVD
www.KUTAFX.com: St. Francis Xavier Church BALI Indonesia
READ MORE - Sejarah Gereja di Bali

24 April 2012

Nyepi Dirayakan di Bali Sejak Abad 8 Masehi

Hari ini umat Hindu merayakan hari raya Nyepi tahun baru Saka 1934. Perayaan hari Nyepi di Bali sendiri ternyata sudah dirayakan sejak abad 8 Masehi.


"Nyepi sudah dirayakan bersama-sama dengan hari raya Galungan sejak dulu. Jika melihat pada catatan prasasti Trunyan A, Nyepi di Bali sudah dirayakan sekitar abad ke 8 Masehi (tahun 800-an), sama halnya dengan perayaan Galungan,"jelas Rektor Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D, belum lama ini.

Sejarah perayaan Nyepi di Bali, kata Titib, menjadi jelas sumbernya ketika kitab Negara Kertagama mencatat adanya perayaan Nyepi di Kerajaan Majapahit yang disebut Caitramaisia.

"Karena Bali merupakan bagian dari Majapahit dan karena tradisi adatnya sama, tentu waktu itu Bali juga sudah merayakan Nyepi. Pada abad ke-13 hingga 14 Masehi, raja di Bali Dalem Waturenggong juga sudah merayakan hari Nyepi seperti halnya di Majapahit,"jelasnya.

Perayaan Nyepi di Bali selalu dicari pada hari tilem (bulan mati) atau yang paling dekat dengan tanggal 21 Maret.

"Mengapa hari Tilem, itu karena Tilem merupakan hari caru, yakni hari untuk melakukan persembahan untuk Ida Sanghyang Widhi agar alam ini menjadi damai,"kata Titib.

Tahun baru Saka sendiri diresmikan di India Selatan tahun 78 Masehi. Pemerintah India hingga saat ini masih memakai tahun baru Saka dan dirayakan setiap 21 Maret.

"Tahun baru Saka di India tidak dirayakan secara besar-besaran karena di sana ada beberapa jenis tahun baru yang dirayakan,"ujarnya.

READ MORE - Nyepi Dirayakan di Bali Sejak Abad 8 Masehi

23 April 2012

Sejarah Singkat Lapas Denpasar

Denpasar. Lembaga Pemasyarakatan Denpasar dulunya bernama Penjara Denpasar. Penjara warisan pemerintah kolonial Belanda ini awalnya berada di daerah Pekambingan, di jalan Diponegoro Denpasar.


Penjara Denpasar yang terletak di daerah Pekambingan Denpasar ini awalnya didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda tahun 1916. Penjara Denpasar kemudian dipindahkan ke daerah Kerobokan yang terletak di wilayah Kabupaten Badung pada tahun 1983. Di bekas lokasi penjara kemudian dibangun pusat pertokoan yang diresmikan mantan Gubernur Bali Ida Bagus Mantra tahun 1986.

Wilayah Kerobokan di Kabupaten Badung kemudian dipilih sebagai lokasi baru Lapas Denpasar. Pertimbangannya wilayah ini masih dekat dengan Kota Denpasar.

Waktu itu (1983), lokasi Lapas Kerobokan merupakan areal persawahan yang subur. Harga tanah di sana juga masih murah karena belum terkena dampak
perkembangan pariwisata.

Mulai tahun 1983, Lembaga Pemasyarakatan (LP) Denpasar berganti nama menjadi LP Kerobokan. Meski secara geografis sudah berada di wilayah kabupaten Badung, namun penjara terbesar di Bali ini belakangan kembali atau sering disebut sebagai Lembaga Pemasyarakatan kelas II A Denpasar atau Lapas Denpasar. (litbang bbcom/berbagai sumber)
READ MORE - Sejarah Singkat Lapas Denpasar

25 September 2011

Kebo Iwa, Panglima Militer Bali Pada Awal Abad ke-14

Arca Kebo Iwa

Kebo Iwa adalah salah seorang panglima militer Bali pada masa pemerintahan Prabu Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten pada awal abad ke-14. Nama lain dari Kebo Iwa adalah Kebo Wandira atau Kebo Taruna yang bermakna kerbau yang perjaka. Pada masa itu nama-nama binatang tertentu seperti kebo (kerbau), gajah, mahisa (banteng), banyak (angsa) lazim dipakai sebagai titel kehormatan khususnya di Bali ataupun Jawa.

Panglima muda yang bertempat tinggal di desa Blahbatuh dan anak dari Panglima Rakyan Buncing ini sering digambarkan sebagai pemuda bertubuh tinggi besar yang mengusai seni perang selain ilmu arsitektur. Undagi (arsitek tradisonal Bali) ini membangun berbagai tempat ibadah di Bali dan tak segan-segan mengangkut sendiri batu-batu besar dengan kekuatan fisiknya.

Mahapatih Majapahit, Gajah Mada, memandang Kebo Iwa dan Pasung Grigis, panglima Bali yang lebih senior dan ahli strategi militer, sebagai batu sandungan politik ekspansionisnya. Untuk itu ia melakukan tipu muslihat dengan menghadap raja Bali dan menawarkan perdamaian. Ia mengundang Kebo Iwa untuk datang ke Majapahit dan dinikahkan dengan seorang putri dari Lemah Tulis sebagai tanda persahabatan antar kedua negara. Namun sesampai di Majapahit, Kebo Iwa kemudian dibunuh.

Gugurnya Kebo Iwa mempermudah ekspedisi penaklukan Bali yang dipimpin Adityawarman, panglima berdarah Singhasari-Dharmasraya, pada tahun 1343.

sumber : wikipedia
READ MORE - Kebo Iwa, Panglima Militer Bali Pada Awal Abad ke-14

22 September 2011

Sejarah Bandara Internasional Ngurah Rai

Tuban Airport


Berawal dari Tuban

Bandara Ngurah Rai dibangun pada tahun 1930 oleh Departement Voor Verkeer en Waterstaats (semacam Departemen Pekerjaan Umum). Landas pacu berupa airstrip sepanjang 700m dari rumput di tengah ladang dan pekuburan di desa Tuban. Karena lokasinya berada di Desa tuban, masyarakat sekitar menamakan airstrip ini sebagai Pelabuhan Udara Tuban.

Pelabuhan Udara Tuban

Tahun 1942 Airstip South Bali dibom oleh Tentara Jepang, yang kemudian dikuasai untuk tempat mendaratkan pesawat tempur dan pesawat angkut mereka. Airstrip yang rusak akibat pengeboman diperbaiki oleh Tentara Jepang dengan menggunakan Pear Still Plate (sistem plat baja).

Lima tahun berikutnya 1942-1947, airstrip mengalami perubahan. Panjang landas pacu menjadi 1200 meter dari semula 700 meter. Tahun 1949 dibangun gedung terminal dan menara pengawas penerbangan sederhana yang terbuat dari kayu. Komunikasi penerbangan menggunakan transceiver kode morse.

Pelabuhan Udara Internasional Tuban

Untuk meningkatkan kepariwisataan Bali, Pemerintah Indonesia kembali membangun gedung terminal internasional dan perpanjangan landas pacu kea rah barat yang semula 1200 meter menjadi 2700 meter dengan overrun 2 x 100 meter. Proyek yang berlangsung dari tahun 1963-1969 diberi nama Proyek Airport Tuban dan sekaligus sebagai persiapan internasionalisasi Pelabuhan Udara Tuban.

Proses reklamasi pantai sejauh 1500 meter dilakukan dengan mengambil material batu kapur yang berasal dari Ungasan dan batu kali serta pasir dari Sungai Antosari – Tabanan.

Seiring selesainya temporary terminal dan runway pada Proyek Airport Tuban, pemerintah meresmikan pelayanan penerbangan internasional di Pelabuhan Udara Tuban, tanggal 10 Agustus 1966.

Pelabuhan Udara Internasional Ngurah Rai

Penyelesaian Pengembangan Pelabuhan Udara Tuban ditandai dengan peresmian oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Agustus 1969, yang sekaligus menjadi momen perubahan nama dari Pelabuhan Udara Tuban menjadi Pelabuhan Udara Internasional Ngurah RAI (Bali International Airport Ngurah Rai.

Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan kargo, maka pada tahun 1975 sampai dengan 1978 Pemerintah Indonesia kembali membangun fasilitas-fasilitas penerbangan, antara lain dengan membangun terminal internasional baru. Gedung terminal lama selanjutnya dialihfungsikan menjadi terminal domestic, sedangkan terminal domestic yang lama digunakan sebagai gedung cargo, usaha jasa catering dan gedung serba guna.

Pengembangan Fasilitas Bandara dan Keselamatan Penerbangan (FBUKP) Tahap I

Proyek FBUKP tahap I (1990 – 1992) meliputi Perluasan Terminal yang dilengkapi dengan Aviobridge, perpanjangan landas pacu menjadi 3000 meter, relokasi taxiway, perluasan apron, renovasi dan perluasan gedung terminal, perluasan pelataran parkir kendaraan, pengembangan gedung kargo, gedung operasi serta pengembangan fasilitas navigasi udara dan fasilitas catu bahan bakar pesawat udara.

Pengembangan Fasilitas Bandara dan Keselamatan Penerbangan (FBUKP) Tahap II

Proyek FBUKP tahap II (1998-2000), pengembangan bandara dikerjakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, antara lain dengan memanfaatkan hutan bakau seluas 12 Ha untuk digunakan sebagai fasilitas keselamatan penerbangan.

Pengembangan Fasilitas Bandara dan Keselamatan Penerbangan (FBUKP) Tahap III

Rencana Proyek FBUKP tahap III meliputi Pengembangan Gedung Terminal, Gedung Parkir, dan Apron. Luas terminal domestik saat ini hanya akan dikembangkan hingga total luasnya mencapai 12.000 m yang nantinya akan digunakan sebagai terminal internasional. Adapun eksisting terminal internasional akan dialihfungsikan menjadi terminal domestic. Dengan kondisi tersebut, Bandara Ngurah Rai akan mampu menampung hingga 25 juta penumpang. (ngurahrai-airport)
READ MORE - Sejarah Bandara Internasional Ngurah Rai

20 September 2011

Kertagosa, Pengadilan di Bali Jaman Dulu

Kertagosa

Sebagai bekas kerajaan, wajar jika Klungkung mempunyai banyak peninggalan yang saat ini menjadi objek wisata. Salah satunya adalah Taman Gili Kerta Gosa, peninggalan budaya kraton Semarapura Klungkung. Kerta Gosa adalah suatu bangunan (bale) yang merupakan bagian dari bangunan komplek kraton Semarapura dan telah dibangun sekitar tahun 1686 oleh peletak dasar kekuasaan dan pemegang tahta pertama kerajaan Klungkung yaitu Ida I Dewa Agung Jambe.

Kerta Gosa terdiri dari dua buah bangunan (bale) yaitu Bale akerta Gosa dan Bale Kambang. Disebut Bale Kambang karena bangunan ini dikelilingi kolam yaitu Taman Gili. Keunikan Kerta Gosa dengan Bale Kambang ini adalah pada permukan plafon atau langit-langit bale ini dihiasi dengan lukisan tradisional gaya Kamasan (sebuah desa di Klungkung) atau gaya wayang yang sangat populer di kalangan masyarakat Bali. Pada awalnya, lukisan yang menghiasi langit-langit bangunan itu terbuat dari kain dan parba. Baru sejak tahun 1930 diganti dan dibuat di atas eternit lalu direstorasi sesuai dengan gambar aslinya dan masih utuh hingga sekarang. Sebagai peninggalan budaya Kraton Semarapura, Kerta Gosa dan Bale Kambang difungsikan untuk tempat mengadili perkara dan tempat upacara keagamaan terutama yadnya yaitu potong gigi (mepandes) bagai putra-putri raja.

Fungsi dari kedua bangunan terkait erat dengan fungsi pendidikan lewat lukisan-lukisan wayang yang dipaparkan pada langit-langit bangunan. Sebab, lukisan-lukisan tersebut merupakan rangkaian dari suatu cerita yang mengambil tema pokok parwa yaitu Swargarokanaparwa dan Bima Swarga yang memberi petunjuk hukuman karma phala (akibat dari baik-buruknya perbuatan yang dilakukan manusia selama hidupnya) serta penitisan kembali ke dunia karena perbuatan dan dosa-dosanya. Karenanya tak salah jika dikatakan bahwa secara psikologis, tema-tema lukisan yang menghiasi langit-langit bangunan Kerta Gosa memuat nilai-nilai pendidikan mental dan spiritual. Lukisan dibagi menjadi enam deretan yang bertingkat.

Deretan paling bawah menggambarkan tema yang berasal dari ceritera Tantri. Dereta kedua dari bawah menggambarkan tema dari cerita Bimaswarga dalam Swargarakanaparwa. Deretan selanjutnya bertemakan cerita Bagawan Kasyapa. Deretan keempat mengambil tema Palalindon yaitu ciri atau arti dan makna terjadinya gempa bumi secara mitologis. Lanjutan cerita yang diambil dari tema Bimaswarga terlukiskan pada deretan kelima yang letaknya sudah hampir pada kerucut langit-langit bangunan. Di deretan terakhir atau keenam ditempati oleh gambaran tentang kehidupan nirwana. Selain di langit-langit bangunan Kerta Gosa, lukisan wayang juga menghiasi langit-langit bangunan di sebelah barat Kerta Gosa yaitu Bale Kambang. Pada langit-langit Bale Kambang ini lukisan wayang mengambil tema yang berasal dari cerita Kakawin Ramayana dan Sutasoma.

Pengambilan tema yanga berasal dari kakawin ini memberi petunjuk bahwa fungsi bangunan Bale Kambang merupakan tempat diselenggarakannya upacara keagamaan Manusa Yadnya yaitu potong gigi putra-putri raja di Klungkung. Daya tarik dari Kerta Gosa selain lukisan tradisional gaya Kamasan di Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang, peninggalan penting lainnya yang masih berada di sekitarnya dan tak dapat dipisahkan dari segi nilai sejarahnya adalah pemedal agung (pintu gerbang/ gapura). Pemedal Agung terletak di sebelah barat Kerta Gosa yang sangat memancarkan nilai peninggalan budaya kraton. Pada Pemedal Agung ini terkandung pula nilai seni arsitektur tradisional Bali. Gapura inilah yang pernah berfungsi sebagi penopang mekanisme kekuasaan pemegang tahta (Dewa Agung) di Klungkung selama lebih dari 200 tahun (1686-1908).

Pada peristiwa perang melawan ekspedisi militer Belanda yang dikenal sebagai peristiwa Puputan Klungkung pada tanggal 28 April 1908, pemegang tahta terakhir Dewa Agung Jambe dan pengikutnya gugur. (Rekaman peristiwa ini kini diabadikan dalam monumen Puputan Klungkung yang terletak di seberang Kerta Gosa). Setelah kekalahan tersebut bangunan inti Kraton Semarapura (jeroan) dihancurkan dan dijadikan tempat pemukiman penduduk. Puing tertinggi yang masih tersisa adalah Kerta Gosa, Bale Kambang dengan Taman Gili-nya dan Gapura Kraton yang ternyata menjadi objek yang sangat menarik baik dari sisi pariwisata maupun kebudayaan terutama kajian historisnya.

Kerta Gosa ternyata juga pernah difungsikan sebagai balai sidang pengadilan yaitu selama berlangsungnya birokrasi kolonial Belanda di Klungkung (1908-1942) dan sejak diangkatnya pejabat pribumi menjadi kepala daerah kerajaan di Klungkung (Ida I Dewa Agung Negara Klungkung) pada tahun 1929. Bahkan, bekas perlengkapan pengadilan berupa kursi dan meja kayu yang memakai ukiran dan cat prade masih ada. Benda-benda itu merupakan bukti-bukti peninggalan lembaga pengadilan adat tradisional seperti yang pernah berlaku di Klungkung dalam periode kolonial (1908-1942) dan periode pendudukan Jepang (1043-1945). Pada tahun 1930, pernah dilakukan restorasi terhadap lukisan wayang yang terdapat di Kerta Gosa dan Bale Kambang oleh para seniman lukis dari Kamasan. Restorasi lukisan terakhir dilakukan pada tahun 1960.

Obyek wisata Kertha Gosa dan Taman Gili (Balai Kambang) pada jaman dahulu merupakan bagian dari puri Semarapura Kerajaan Klungkung yang dibangun pada abad 17. di sebelah barat bangunan ini terdapat sebuah pintu gerbang yang dikenal dengan nama Pemedal Agung adalah merupakan pintu gerbang utama puri Semarapura tersebut.

Ketiga bangunan bersejarah ini berada dalam satu areal yang terletak di jantung kota Semarapura, 40 Km sebelah timur kota Denpasar dan kalau kendaraan dari Denpasar akan menghabiskan waktu kira-kira 1 jam. Dilalui oleh jalur lalu lintas perjalanan wisatawan menuju Besakih, Goa Lawah, Candi Dasa dan dari obyek wisata Kertha Gosa/Taman Gili dapat dilanjutkan ke Desa Wisata Kamasan yang terletak 2 Km ke arah selatan dengan lama jarak tempuh 15 menit, disana terkenal dengan kerajinan perak, ukiran klongsong peluru, emas dan lukisan wayang tradisional.

Disamping itu di sebelah timur kertha gosa/Taman Gili tersedia fasilitas-fasilitas lainnya seperti : parkir, pasar, toko-toko souvernir, kantor telpon, Money Changer dan sebagainya. Di sebelah utaranya berdiri Monumen Puputan Klungkung dan kantor-kantor pemerintah.

Adapun fungsi Kertha Gosa pada jaman kerajaan adalah sebagai tempat berlangsungnya sidang Raja-raja di Bali, namun setelah kerajaan Klungkung jatuh akibat perang puputan Klungkung pada tanggal 28 April 1908, maka Kertha Gosa tidak lagi berfungsi sebagai tempat sidang Raja-raja, tetapi berfungsi sebagai Pengadilan Adat dan Agama. Pada Balai ini terdapat sebuah meja berukir keemasan dan 6 (enam) buah kursi. Pada kursi yang lengannya bertanda singa adalah tempat duduknya Regen (Raja) yang bertindak selaku Hakim Ketua. Kursi yang berlengan lembu adalah tempat duduknya Pendeta sebagai Ahli Hukum serta penasehat Raja di dalam mengambil keputusan. Dan Kursi yang berlambangkan Naga adalah tempat duduknya para Kanca sebagai Panitera. Sedangkan orang-orang yang hendak diadili baik sebagai tergugat maupun penggugat duduk dilantai bersila dalam laku dan sikap santun. Benda-benda tersebut sampai saat ini masih dilestarikan. Sedangkan Taman Gili juga dikenal dengan nama Balai Kambang yang dikelilingi kolam berbunga teratai, melukiskan suatu pulau keindahan dikitari samudera , berfungsi sebagai tempat menjamu tamu-tamu penting yang datang menghadap raja.

Daya tarik khas ketiga bangunan ini ialah karena sebagai peninggalan bersejarah dari kerajaan Klungkung dengan ornamen ukiran-ukirannya yang indah mengagumkan. Selain itu pada bangunan Kerta Gosa dan Taman Gili, pada langit atapnya dihiasi lukisan tradisional Kamasan yang amat artistik, menggambarkan filosofi kebudayaan Hindu. Disamping itu pula Taman Gili/Balai Kambang sebagai satu bangunan beraksitetur tradisional Bali didirikan diatas alas kura-kura raksasa yang disebelah timurnya, diatas tembok kolam yang mengelilinginya berderet patung –patung para Dewata di satu pihak dan para raksasa di pihak lain, masing-masing Kelompok berusaha mendapatkan Amertha Penyubur Kehidupan. Kisah ini sebenarnya merupakan kisah simbolik tentang upaya penstabilan dunia dengan segala kehidupan di atasnya.

Sumber : baliterkini.wordpress.com


READ MORE - Kertagosa, Pengadilan di Bali Jaman Dulu

19 September 2011

Ini Dia Asal-Usul Nama Bali

Peta Bali Kuno


Tahukan Anda dari mana asal nama Bali untuk menyebut sebuah pulau di timur Pulau Jawa?

Kedatangan seorang Maha Rsi Markandeya abad ke-7 memberikan pengaruh besar pada kehidupan penduduk Bali. Beliau adalah seorang pertapa sakti di Gunung Raung, Jawa Timur.

Suatu hari beliau mendapat bisikan gaib dari Tuhan untuk bertempat tinggal di sebelah timur Pulau Dawa (pulau Jawa sekarang). Dawa artinya panjang, karena memang dulunya pulau Jawa dan Bali menjadi satu daratan.

Dengan diikuti oleh 800 pengikutnya, beliau mulai bergerak ke arah timur yang masih berupa hutan belantara. Perjalanan beliau hanya sampai di daerah Jembrana sekarang Bali Barat karena pengikut beliau tewas dimakan harimau dan ular-ular besar penghuni hutan. Akhirnya beliau memutuskan kembali ke Gunung Raung untuk bersemedi dan mencari pengikut baru.

Dengan semangat dan tekad yang kuat, perjalanan beliau yang kedua sukses mencapai tujuan di kaki Gunung Agung (Bali Timur) yang sekarang disebut Besakih.

Sebelum pengikutnya merabas hutan, beliau melakukan ritual menanam Panca Dhatu berupa lima jenis logam yang dipercayai mampu menolak bahaya. Perabasan hutan sukses, tanah-tanah yang ada beliau bagi-bagi kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah, tegalan, rumah, dan tempat suci yang dinamai Wasukih (Besakih).

Di sinilah beliau mengajarkan agama kepada pengiringnya yang menyebut Tuhan dengan nama Sanghyang Widhi melalui penyembahan Surya (surya sewana) tiga kali dalam sehari, menggunakan alat-alat bebali yaitu sesajen yang terdiri atas tiga unsur benda: air, api, dan bunga harum.

Ajaran agamanya disebut agama Bali. Lambat laun para pengikutnya mulai menyebar ke daerah sekitar, sehingga daerah ini dinamai daerah Bali, daerah yang segala sesuatunya mempergunakan bebali (sesajen).

Bisa disimpulkan bahwa nama Bali berasal dari kata bebali yang artinya sesajen.

Ditegaskan lagi dalam kitab Ramayana yg disusun 1200SM: "Ada sebuah tempat di timur Dawa Dwipa yang bernama Vali Dwipa, di mana di sana Tuhan diberikan kesenangan oleh penduduknya berupa bebali (sesajen)."

Vali Dwipa adalah sebutan untuk Pulau Vali yang kemudian berubah fonem menjadi Pulau Bali atau pulau sesajen. Tidak salah memang interpretasi ini melihat orang Bali memang tidak bisa lepas dari sesajen dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya.
READ MORE - Ini Dia Asal-Usul Nama Bali

Rangda, Ratu Leak dalam Mitologi Bali

Rangda


Denpasar. Rangda adalah ratu dari para leak dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan penganut sihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.

Menurut etimologinya, kata Rangda yang dikenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti Janda. Rangda adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa yaitu Waisya, Ksatria, Brahmana. Sedangkan dari golongan Sudra disebut Balu dan kata Balu dalam bahasa Bali alusnya adalah Rangda.

Perkembangan selanjutnya, istilah Rangda untuk janda semakin jarang kita dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud Rangda yang 'aeng' (seram) dan menakutkan serta identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri (pengiwa). Hal ini terutama kita dapatkan dalam pertunjukan-pertunjukan cerita rakyat. Dengan kata lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu bila dikatakan bisa neluh nerangjana (ngeleak). Sesungguhnya pengertian di atas lebih banyak diilhami cerita-cerita rakyat yang di dalamnya terdapat unsur Rangda. Cerita yang paling besar pengaruhnya adalah Calonarang.

Mitos Rangda

Diceritakan bahwa kemungkinan besar Rangda berasal dari ratu Mahendradatta yang hidup di pulau Jawa pada abad yang ke-11. Ia diasingkan oleh raja Dharmodayana karena dituduh melakukan perbuatan sihir terhadap permaisuri kedua raja tersebut. Menurut legenda, ia membalas dendam dengan membunuh setengah kerajaan tersebut, yang kemudian menjadi miliknya serta milik putra Dharmodayana, Erlangga. Kemudian ia digantikan oleh seseorang yang bijak.

Rangda sangatlah penting bagi mitologi Bali. Pertempurannya melawan Barong atau melawan Erlangga sering ditampilkan dalam sendratari. Sendratari ini sangatlah populer dan merupakan warisan penting dalam tradisi Bali. Rangda digambarkan sebagai seorang wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan serta memiliki kuku-kuku panjang, lidah yang menjulur panjang, dan payudara yang panjang. Wajahnya menakutkan dan memiliki taring-taring yang panjang dan tajam.

Jenis-jenis Rangda

Mengidentifikasi jenis-jenis Rangda yang berkembang di Bali amat sulit. Hal ini mengingat wujud Rangda pada umumnya adalah sama. Memang dalam cerita Calonarang ada wujud Rangda yang lain seperti Rarung, Celuluk, namun itu adalah antek-antek dari Si Calonarang dan kedudukannya lebih banyak dalam cerita-cerita bukan disakralkan. Untuk membedakan wujud Rangda adalah dengan melihat bentuk mukanya (prerai), yaitu :

Nyinga : Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai singa dan sedikit menonjol ke depan (munju). Sifat dari Rangda ini adalah galak dan buas.

Nyeleme : Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai wajah manusia dan sedikit melebar (lumbeng). Bentuk Rangda seperti ini, menunjukkan sifat yang berwibawa dan angker.

Raksasa : Apabila bentuk muka Rangda ini menyerupai wujud raksasa seperti yang umum kita lihat Rangda pada umumnya. Biasanya Rangda ini menyeramkan.

(litbang bbcom/wikipedia/berbagai sumber)
READ MORE - Rangda, Ratu Leak dalam Mitologi Bali

22 August 2011

5 Perang Puputan Melawan Penjajah

Di Bali sejarah mencatat terjadi lima kali perang puputan. Kesemuanya merupakan perlawanan heroik rakyat Bali terhadap penjajah Belanda. Sejarah perang puputan pertama kali terjadi pada tahun 1846 dan terkahir kali terjadi pada tahun 1946.


Menurut wikipedia, puputan adalah tradisi masyarakat di Bali, Indonesia yang berupa tindakan perlawanan bersenjata habis-habisan sampai mati demi kehormatan tanah air. Istilah ini berasal dari kata "puput" yang artinya "tanggal" / "putus" / "habis / "mati". Puputan berarti perang sampai mati, dan wajib berlaku untuk seluruh warga yang ada dari semua kasta sebagai bentuk perlawanan, termasuk mengorbankan jiwa dan raga sampai titik darah penghabisan.

Tradisi puputan tidak hanya berlaku bagi pimpinan (dalam hal ini raja) dan prajurit angkatan perangnya saja, tetapi berlaku bagi seluruh rakyat yang berada di seluruh wilayah kerajaan bersangkutan. Bagi mereka yang sudah dinyatakan cukup umur, wajib ikut berperang. Laki-laki atau wanita, semuanya akan bergabung untuk membela tanah kelahiran mereka dari ancaman pihak yang dianggap telah menginjak-injak harga diri dan kehormatan masyarakat.

Bagi masyarakat yang tidak mau terlibat dalam perang puputan diharapkan pergi sejauh mungkin dari wilayah bersangkutan, sebelum perang dimulai. Namun biasanya tidak banyak warga yang mau menempuh jalan ini, sebagian besar dari mereka akan membela tanah kelahirannya, meskipun mereka tahu pasti akan gugur di medan perang. Setelah perang puputan selesai, daerah bersangkutan akan menjadi tanah tak bertuan.

Sebelum berangkat ke medan perang, setiap orang diharuskan melakukan persembahyangan di pura keluarga (Pura Pemerajan) untuk mohon diri (Mapamit), pergi ke alam keabadian. Mereka sangat menyadari peta kekuatan musuh tidak mungkin tertandingi. Itulah sebabnya diumumkan perang puputan. Tetapi mereka adalah patriot yang tentu juga akan banyak membunuh musuh, karena semangat yang berani mati yang sudah tertanam dalam jiwa mereka.

Melawan Penjajah

Perang puputan dalam catatan sejarah hanya terjadi pada masa penjajahan Belanda. Sebelumnya, meskipun sering terdengar peperang diantara kerajaan-kerajaan yang ada, belum terdengar adanya perang puputan. Ini disebabkan oleh etika peperangan masih dijunjung tinggi oleh para pihak yang bertikai. Selain itu persenjataan yang dipergunakan kedua belah pihak berimbang. Biasanya setelah perang usai, pemimpin dan prajurit yang setia akan mengasingkan diri ke tempat yang agak jauh dari ibukota kerajaan. Rakyat yang kalah pun akan diperlakukan sama seperti rakyat yang memengkan perang dan mereka akan diadopsi sebagai warga kerajaan yang menang perang.

Berbeda dengan pada masa penjajahan Belanda, rakyat Bali harus berhadapan dengan tentara belanda yang telah dipersenjatai dengan senjata modern, seperti senapan, meriam bahkan tank-tank lapis baja. Sementara prajurit kerajaan serta rakyatnya hanya dipersenjatai keris, tombak bahkan bambu runcing. Rakyat Bali tentu sangat menyadari akan kalah berperang melawan pasukan Belanda. Tetapi kondisi ini tidak membuat rakyat Bali takluk dan menyerah kepada Belanda. Berperang adalah pilihan satu-satunya dan gugur di medan perang adalah hasilnya yang pasti.

Perang Puputan Yang Pernah Terjadi

Di Bali sejarah mencatat terjadi lima kali perang puputan. Kesemuanya merupakan perlawanan heroik rakyat Bali terhadap penjajah Belanda. Sejarah perang puputan pertama kali terjadi pada tahun 1846 dan terkahir kali terjadi pada tahun 1946.

1. Puputan Jagaraga


Pada tahun 1846, Anak Agung Jelantik penguasa daerah Den Bukit, sekarang termasuk dalam wilayah Kabupaten Buleleng memutuskan untuk melakukan perang puputan. Perang ini dipicu oleh politik tawan karang (menahan seluruh kapal asing yang masuk ke dermaga pelabuhan Buleleng - Bali Utara) yang diberlakukan Kerajaan Den Bukit tidak diterima oleh pihak Belanda yang mencoba masuk ke wilayah Den Bukit. Karena dipersenjatai peralatan perang modern yang lengkap, termasuk kapal laut, kapal udara, mobil perang beserta senapan-senapan apinya, maka Belanda secara membabi buta menyerang wilayah Den Bukit mulai dari pesisir Buleleng sampai ke kota kerajaan di desa Jagaraga.

Dipimpin oleh Jenderal Mayor A.V. Michiels dan sebagai wakilnya adalah van Swieten, Kerajaan Buleleng diserang dari segala tempat, udara, laut dan darat. Namun rakyat Den Bukit tidak menyerah menghadapi serangan yang sangat tidak berimbang ini. Raja Den Bukit pun mengumumkan kepada rakyat, pasukan perang dan kerabat istana untuk menghadapi Belanda sampai titik darah penghabisan. Akhirnya Den Bukit pun jatuh ke tangan Kolonial Belanda, namun atas desakan rakyat, Anak Agung Jelantik dan beberapa sesepuh Kerajaan Den Bukit berhasil diloloskan ke wilayah Kerajaan Karangasem untuk meminta perlindungan dan menyusun kekuatan untuk kembali menghadapi pasukan Belanda.

2. Puputan Kusamba


Tiga tahun kemudian, yakni tahun 1849, Belanda berusaha menduduki wilayah Bali Timur. Pasukan ingin menguasai wilayah Kerajaan Klungkung yang merupakan kerajaan tertinggi di Bali saat itu. Dengan menguasai Kerajaan Klungkung, berarti wilayah Bali secara keseluruhan akan dibawah kekuasaan penjajah Belanda. Namun rencana ini tercium oleh rakyat desa Kusamba yang merupakan benteng kekuatan Kerajaan Klungkung. Rakyat Kusamba yang didukung penuh oleh atasannya menyatakan akan menghadapi belanda secara perang puputan.

Pada tanggal 25 Mei 1849, tampil lah Ida I Dewa Istri Kanya, seorang perempuan Bali memimpin perang puputan yang dikenal dengan Puputan Kusamba tersebut. Saat itu pasukan Belanda dipimpin oleh Let. Jen. Michiels. Berbeda dengan perang puputan lainnya, kali ini Klungkung memenangkan perang dengan terbunuhnya Micheils di medan perang. Kekalahan ini tentu saja membuat pihak Belanda sangat malu.

3. Puputan Badung


Setelah hampir setengah abat tidak terdengar adanya perang puputan di Bali, tiba-tiba pada tanggal 20 September 1906, tiga kerajaan yakni Puri Kesiman, Puri Denpasar dan Puri Pemecutan mengumumkan perang puputan melawan kolonial Belanda yang berkedudukan di Batavia. Perang ini dipicu oleh taktik licik pihak kolonial Belanda yang menuduh rakyat Sanur mencuri barang-barang milik saudagar Cina yang diangkut oleh kapal Sri Komala berbendera Belanda yang terdampar di pantai Sanur pada tahun 1904. Kwee Tek Tjiang, pemilik barang telah membuat laporan palsu kepada utusan raja dan menyatakan rakyat telah mencuri 3.700 ringgit uang perak serta 2.300 uang kepeng. Laporan tanpa bukti itu tentu saja tidak dipercaya oleh utusan raja.

Karena utusan raja tidak mempercayai laporan palsu tersebut, pihak kolonial Belanda mengeluarkan ultimatun yakni mendenda Raja Badung, I Gusti Ngurah Denpasar (Badung merupakan otoritas tiga kerajaan, yakni Kesiman, Denpasar dan Pemecutan) sebesar 3.000 ringgit (7.500 gulden). Jika Raja Badung tidak mau membayar denda sampai batas tanggal yang ditentukan 9 Januari 1905, maka wilayah Badung akan diserang secara militer oleh pihak kolonial Belanda. Karena rakyat Badung tidak bersalah, maka tantangan tersebut diladeni dengan perlawanan.

Maka pecahlah Puputan Badung dengan korban gugur di pihak rakyat mencapai 7.000 orang, termasuk para raja dan kerabat istana serta para pahlawan dari ketiga puri, Kesiman, Denpasar dan Pemecutan. Pasukan Belanda dipimpin Rost Van Toningen, berhasil menduduki wilayah Badung. Namun para wartawan perang yang dibawa pihak Belanda melaporkan bahwa Puputan Badung ini merupakan pembantaian massal yang dilakukan militer Belanda terhadap rakyat sipil yang tidak bersenjata.

4. Puputan Klungkung

puputan klungkung Pictures, Images and Photos
Dua tahun setelah Puputan Badung, tanggal 28 April 1908 kembali terjadi perang puputan melawan kolonial Belanda. Perang puputan yang dikenal dengan Puputan Klungkung ini merupakan perang puputan terakhir masa kerajaan di Bali. Perang yang menandai jatuhnya seluruh wilayah Bali ke tangan belanda ini dipicu oleh kesewenang-wenangan Belanda dalam membuat peraturan yang tentu merugikan rakyat Bali. Di pihak Klungkung dipimpin oleh Raja Klungkung Ida I Dewa Agung Jambe, yang sekaligus gugur dalam peperangan.

Kemenangan Belanda kali ini merupakan obat penawar sakit hati yang harus diterima Belanda ketika menggempur wilayah Klungkung di Desa kusamba sekitar setengah abad sebelumnya.

5. Puputan Margarana


Setelah Indonesia merdeka, pada masa-masa perang kemerdekaan kembali terjadi perang puputan di wilayah Kabupaten Tabanan. Adalah Desa Marga, Kecamatan Marga, menjadi tempat bersejarah yang menandai bagaimana rakyat Indonesia, khususnya rakyat Bali gigih menentang segala bentuk penjajahan. Di tempat pertempuran secara puputan terakhir ini, kini ditandai dengan situs candi yang dikenal dengan Candi Margarana. Marga adalah tempat kejadiannya, sedangkan rana berarti perang atau pertempuran.

Pada tanggal 20 November 1946, terjadi pertempuran habis-habisan antara pasukan Ciung Wanara dibawah pimpinan Let. Kol. I Gusti Ngurah Rai melawan pasukan NICA (pasukan yang dibonceng penjajah Belanda). Pertempuran sengit diatas kebun jagung di Banjar Kelaci itu membuat I Gusti Ngurah Rai beserta segenap pasukannya gugur dalam membela tanah air, NKRI. (litbang bb.com/berbagai sumber)
READ MORE - 5 Perang Puputan Melawan Penjajah

Pantai Kuta Dulu dan Kini


Pantai Kuta Dulunya Dikenal Angker

Kuta. Tahukah Anda jika Pantai Kuta dulunya dikenal sangat angker? Ada banyak kuburan yang terdapat di sepanjang Pantai Kuta. Berikut penuturan pendiri Balawista atau penyelamat Pantai Kuta, I Gde Berata, yang sempat merasakan indah dan asrinya pantai Kuta tempo dulu.

"Tahun 1965-an hingga tahun 1970-an, Pantai Kuta masih amat sepi. Pasirnya putih, ombaknya sangat bagus untuk kegiatan surfing. Hanya ada satu dua wisatawan asing yang ada di pantai, bisa dihitung dengan jari," ujar Gde kepada beritabali.com belum lama ini.

Saat itu, kata Berata, di pinggir pantai Kuta banyak tumbuh pohon kelapa, pohon kreket, pohon katang-katang, padanggalak, dan pandan.

"Pohon katang-katang berfungsi untuk menjaga pasir pantai agar tidak terbawa ombak saat pasang," ujar pria kelahiran 20 Juni 1939 ini.

Waktu itu hotel di Kuta juga tidak terlalu banyak, hanya ada penginapan-penginapan kecil milik penduduk lokal. Di sepanjang Pantai Kuta waktu itu masih terdapat perahu nelayan yang ditambatkan.

"Pantai Kuta dulu juga dikenal angker. Banyak terdapat kuburan di sepanjang pantai Kuta. Tidak banyak yang berani lewat di pantai waktu malam hari karena keangkerannya," kata Berata.

Waktu tahun 1960 an, kata Berata, turis asing juga bisa berlaku bebas di pantai, tidak ada yang menghalang-halangi.

"Turis bisa bebas sebebasnya, bisa telanjang di pinggir pantai. Jaman itu kita bisa melihat banyak turis telanjang di pinggir pantai Kuta. Setelah Tahun 70 an, turis sudah tidak bisa bebas lagi, sudah mulai ada larangan-larangan seperti tidak boleh telanjang di pantai," kenangnya.

Karena adanya larangan-larangan, turis asing yang sudah terlanjur biasa bebas mulai bergeser ke pantai Legian, Seminyak, Camplung Tanduk, hingga ke Canggu untuk menyepi. (dev)
READ MORE - Pantai Kuta Dulu dan Kini

21 August 2011

Sejarah Istana Tampaksiring


Gianyar. Nama Tampaksiring diambil dari dua buah kata bahasa Bali, yaitu tampak (yang bermakna 'telapak ') dan siring (yang bermakna 'miring'). Menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas telapak kaki seorang Raja yang bernama Mayadenawa.

Raja ini pandai dan sakti, tetapi bersifat angkara murka. Ia menganggap dirinya dewa serta menyuruh rakyatnya menyembahnya. Sebagai akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan balatentaranya untuk menghacurkannya. Namun, Mayadenawa berlari masuk hutan.

Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap agar para pengejarnya tidak mengenali bahwa jejak yang ditinggalkannya itu adalah jejak manusia, yaitu jejak Mayadenawa.

Usaha Mayadenawa gagal. Akhirnya ia ditangkap oleh para pengejarnya. Namun, sebelum itu, dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air beracun yang menyebabkan banyak kematian bagi para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air ciptannya itu.

Batara Indra pun menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun tersebut. Air Penawar racun itu diberi nama Tirta Empul (yang bermakna 'airsuci'). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa denagn berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah wilayah ini dikenal dengan nama Tampaksiring.

Menurut riwayatnya, disalah satu sudut kawasan Istana Tampaksiring, menghadap kolam Tirta Empul di kaki bukit, dulu pernah ada bangunan peristirahatan milik Kerajaan Gianyar. Di atas lahan itulah sekarang berdiri Wisma Merdeka , yaitu bagian dari Istana Tampaksiring yang pertama kali dibangun.

Istana Kepresidenan Tampaksiring berdiri atas prakarsa Presiden I Republik Indonesia, Soekarno, sehingga dapat dikatakan Istana Kepresidenan Tampaksiring merupakan satu-satunya istana yang dibangun pada masa pemerintahan Indonesia.

Pembangunan istana dimulai taun 1957 hingga tahun 1960. Namun, dalam rangka menyongsong kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV (ASEAN Summit XIV) yang diselenggarakan pada tanggal 7-8 Oktober 2003, Istana Tampaksiring menambahkan bangunan baru berikut fasilitas - fasilitasnya, yaitu gedung untuk Konferensi dan untuk resepsi. Selain itu, istana juga merenovasi Balai Wantilan sebagai gedung pagelaran kesenian.

Istana Kepresidenan Tampaksiring dibangun secara bertahap. Arsiteknya ialah R.M Soedarsono. Yang pertama kali dibangun adalah Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira, yakni pada tahun 1957. Pembangunan berikutnya dilaksanakan tahun 1958, dan semua bangunan selesai pada tahun 1963. Selanjutnya, untuk kepentingan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, yang diselenggarakan di Bali pada tanggal 7-8 Oktober 2003, Istana dibangun gedung baru untuk Konferensi beserta fasilitas-fasilitasnya dan merenovasi Balai Wantilan. Kini Tampaksiring juga memberikan kenyamanan kepada pengunjungnya (dalam rangka kepariwisataan) dengan membangun pintu masuk tersendiri yang dilengkapi dengan Candi Bentar, Koro Agung, serta Lapangan Parkir berikut Balai Bengongnya.

Sejak dirancangnya / direncanakan, pembangunan Istana Kepresidenan Tampaksiring difungsikan untuk tempat peristirahatan bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga dan bagi tamu-tamu negara. Usai pembangunan istana ini, yang pertama berkunjung dan bermalam di istana adalah pemrakarsanya, yaitu Presiden Soekarno. Tamu Negara yang bertama kali menginap di istana ini ialah Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand, yang berkunjung ke Indonesia bersama permaisurinya, Ratu Sirikit (pada tahun 1957).

Menurut catatan, tamu-tamu negara yang pernah berkunjung ke Istana Kepresidenan Tampaksiring, antara lain adalah Presiden Ne Win dari Birma ( sekarang Myanmar), Presiden Tito dari Yugoslavia, Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruchev dari Uni Soviet, Ratu Juliana dari Negeri Belanda, dan Kaisar Hirihito dari Jepang. (bb.com/presidenri.go.id/berbagai sumber)
READ MORE - Sejarah Istana Tampaksiring

Agen Properti Terpercaya di Bali